Forgot your password?
Error : Oops! If you are seeing this, your browser is not loading the page correctly. Please try pressing Control-F5 to force reload the page. If this doesn't work, you may need to update your browser :
Download Firefox | Download Chrome | Download IE

alifia-zahra   

Zahra, 31 y.o.
Sidoarjo, Indonesia [Current City & Hometown]

Looking for

Friends
Language practice

Education

Bachelor's degree

Occupation

freelance

Relationship status

Single


Joined 9 years ago, profile updated 5 years ago.

Displaying posts 1 to 10 of 206.
Reply - Conversation - Feb 13
Maulana Jalaludin Rumi said in his book,
"Your worst enemy hides within yourself, and that enemy is your False Ego."

Yes. The ego is the part of the enemy within that we often don't realize.

There are times when we feel like we're at war, but we don't know who the enemy is. We blame circumstances, other people, the social system, even fate for feeling unfair.

Yet, beneath all that anxiety lies something quieter and closer than our veins. It doesn't appear in the mirror, but speaks through our minds. It doesn't hold a weapon, yet it can wound our self-esteem, poison relationships, and rob us of peace.

It is the person we think we are, but it is actually just a mask we construct to survive the demands of the world.

From childhood, we learn to be something in the eyes of others. We are taught to appear strong, intelligent, pure, successful, and influential. Unconsciously, we construct an identity based on praise and recognition.

In this process, a false ego is born that masquerades as our true self.
It makes us feel like we must always be right, always better, always on top. It makes us afraid of appearing weak.
In a social space filled with competition and comparison, a false ego thrives. And when it takes over our inner selves, we no longer live as our true selves, but rather as an image we constantly strive to maintain.

1. The False Ego Always Craves Recognition

The false ego is never satisfied with praise. It's like a bottomless pit that constantly demands validation. Every moment of appreciation feels good, but only for a moment. Then a new anxiety arises: who is better than me, who deserves more praise? In psychology, this urge is related to an excessive need for external validation. Socially, we live in an age that magnifies this tendency through numbers, likes, and comments. We feel valuable because we're seen. Yet true worth doesn't come from the spotlight, but from a depth that needs no witnesses.

2. It Wraps Fear in Arrogance

Behind the self-righteous attitude often hides fears that have never been acknowledged. Fear of rejection, fear of failure, fear of insignificance. The false ego chooses to attack before being attacked. It's more comfortable blaming than admitting shortcomings. In existential philosophy, humans are indeed anxious about their limitations. However, instead of accepting this reality as part of humanity, the false ego creates an illusion of superiority. Ironically, the larger it becomes, the more fragile the heart it protects becomes.

3. It Turns Relationships into a Competition Arena

When the false ego takes over, relationships are no longer a space for sharing, but rather a field of proving ourselves. We find it difficult to listen because we're busy wanting to be heard. We find it difficult to understand because we're busy wanting to be understood. Even kindness is sometimes done for the sake of image, not sincerity. Socially, this pattern undermines trust and warmth. Relations
Reply - Conversation - Feb 11
Hakikat Jodoh sebagai "Hukum Alam"

Dalam perspektif teologis-filosofis, jodoh adalah bagian dari ketetapan hukum alam (sunatullah). Sebagaimana siang berpasangan dengan malam dan gelap dengan terang, setiap manusia telah diprogram memiliki pasangan hidupnya masing-masing tanpa terkecuali.

Analogi jodoh serupa dengan rezeki; ia telah dijamin namun tidak datang secara otomatis melalui kepasifan. Diperlukan upaya aktif untuk "menjemput" ketetapan tersebut. Kegagalan menemukan jodoh seringkali merupakan manifestasi dari kurangnya keseriusan dalam proses pencarian metafisik dan fisik.

Soulmate dan Keutuhan Jiwa

Konsep Soulmate atau belahan jiwa bukan sekadar romantisasi emosional, melainkan kebutuhan akan keutuhan jiwa. Ketika seseorang bertemu dengan jodohnya, terjadi integrasi antara dua fragmen jiwa yang sebelumnya terpisah, menciptakan harmoni yang membuat hidup menjadi lebih fungsional.

Kehadiran pasangan melengkapi aspek-aspek kehidupan yang tidak mungkin dijalankan sendirian. Dalam konteks agama, pernikahan dipandang sebagai penggenap separuh agama karena di dalamnya terdapat ruang-ruang kebajikan yang hanya bisa diakses melalui interaksi dengan pasangan hidup.

Fenomena "Jodoh Expired"

Banyak individu mempertanyakan mengapa sebuah hubungan yang awalnya dirasa "berjodoh" bisa berakhir di tengah jalan. Secara filosofis, durasi kebersamaan adalah misteri yang berada di luar domain kontrol manusia, namun tugas kita adalah mengelola apa yang sudah didapatkan sebaik mungkin.

Jika sebuah hubungan berakhir meski usaha maksimal telah diberikan, hal itu menandakan berakhirnya fase "jodoh" dalam dimensi waktu tersebut. Kita tidak boleh mengambil hak prerogatif Tuhan dengan merusak hubungan secara sengaja, namun harus menerima batas kemampuan manusia dalam menjaga ketetapan-Nya.

Fokus pada "Menjodohkan Diri"

Kesalahan epistemologis banyak orang adalah terlalu fokus mencari subjek yang "pantas" bagi mereka, namun abai dalam membentuk diri agar "pantas" bagi orang lain. Jodoh bukan sekadar mencari objek yang tepat, melainkan proses transformasi diri menjadi subjek yang layak dipilih.

Kualitas diri yang Anda bangun integritas, tanggung jawab, dan kebaikan adalah daya tawar utama dalam semesta perjodohan. Mengubah diri adalah satu-satunya variabel yang berada sepenuhnya dalam kendali Anda, sementara rasa cinta orang lain kepada Anda adalah anugerah yang bersifat transenden.

Law of Attraction dalam Perjodohan

Terdapat hukum tarik-menarik (Law of Attraction) di mana alam semesta akan merespons sesuai dengan kondisi internal kita. Realitas eksternal, termasuk jodoh yang datang, seringkali merupakan cerminan dari tingkat kualitas dan kepantasan diri yang kita proyeksikan ke luar.

Jika Anda membentuk diri menjadi individu dengan level kualitas "A", maka semesta cenderung akan menghadirkan jodoh di level yang sama. Oleh karena itu, strategi terbaik untuk mempercepat pertemuan dengan jodoh bukanlah dengan mengejar, melainkan
Reply - Conversation - Feb 10
Ada saat ketika hidup terasa seperti arus yang sengaja melawan arah langkah kita. Rencana runtuh, harapan meleset, dan doa seolah berputar tanpa jawaban.

Pada momen seperti itu, batin manusia sering terbelah antara keinginan untuk menyerah dan dorongan untuk bertahan. Secara psikologis, kekecewaan lahir bukan semata karena peristiwa, melainkan karena jarak antara apa yang kita harapkan dan apa yang benar-benar terjadi. Di sanalah rasa lelah tumbuh pelan, sering kali tanpa disadari.

Dalam kehidupan sosial, kegagalan kerap disembunyikan dan kesedihan diajarkan untuk segera ditutupi. Kita dituntut terlihat kuat bahkan ketika hati sedang remuk. Padahal hidup memang tidak selalu berjalan sesuai kemauan, dan penerimaan atas kenyataan itu bukan tanda kelemahan, melainkan pintu menuju kedewasaan batin. Kesabaran yang diluaskan dan kekuatan yang dibentuk justru sering lahir dari titik-titik paling rapuh dalam hidup manusia.
Reply - Conversation - Jan 21
Ada luka yang tidak tampak di wajah, tetapi menetap lama di batin seseorang. Luka itu lahir ketika cinta yang pernah diberikan dengan penuh kepercayaan berubah menjadi penyesalan yang sunyi. Dalam relasi manusia, terutama antara lelaki dan perempuan, ada tanggung jawab batin yang sering diabaikan. Bukan sekadar tentang hadir atau pergi, tetapi tentang bagaimana kehadiran itu meninggalkan jejak, apakah ia menyembuhkan atau justru melukai.

Secara psikologis dan sosial, kelelakian sering disempitkan pada kekuatan, dominasi, atau kemampuan menaklukkan. Padahal, makna terdalamnya justru terletak pada tanggung jawab emosional dan kedewasaan moral. Ketika ada seorang wanita yang menyesal pernah mencintai, itu bukan hanya kisah personal, melainkan cermin tentang kegagalan menjaga amanah perasaan. Di sanalah kelelakian diuji, bukan di hadapan dunia, tetapi di hadapan nurani sendiri.

1. Kelelakian sebagai amanah, bukan hak istimewa

Kelelakian sejati lahir dari kesadaran bahwa setiap perasaan yang dipercayakan adalah titipan. Secara filosofis, amanah menuntut penjagaan, bukan eksploitasi. Ketika seorang lelaki memperlakukan cinta sebagai sesuatu yang bisa digunakan lalu ditinggalkan, ia sedang meruntuhkan makna dirinya sendiri, meski tampak utuh di mata sosial.

2. Luka perempuan adalah cermin kegagalan batin

Penyesalan yang tumbuh di hati seorang wanita bukan datang tiba tiba. Ia terbentuk dari rangkaian sikap, kata, dan keputusan yang mengabaikan empati. Secara psikologis, luka ini sering lebih dalam daripada yang terlihat, dan secara moral, ia menjadi cermin yang jujur tentang kedewasaan lelaki yang bersangkutan.

3. Tanggung jawab emosional adalah bentuk kekuatan tertinggi

Masyarakat sering mengajarkan lelaki untuk kuat dengan cara menahan atau menyingkirkan perasaan. Padahal kekuatan sejati justru muncul ketika seseorang mampu hadir sepenuhnya, mendengar, memahami, dan bertanggung jawab atas dampak tindakannya. Lelaki yang berani memikul akibat emosional dari sikapnya sedang menapaki bentuk kelelakian yang matang dan bermartabat.

4. Kehormatan tidak runtuh karena kesalahan, tetapi karena pengingkaran

Setiap manusia bisa salah, termasuk dalam mencintai. Namun kehormatan seorang lelaki benar benar gugur ketika ia menolak mengakui luka yang ia sebabkan. Secara sosial, pengingkaran ini melahirkan siklus ketidakadilan emosional. Secara batin, ia mengeraskan hati dan menjauhkan diri dari pertumbuhan jiwa.

5. Menjadi lelaki berarti meninggalkan jejak yang menenangkan

Kehadiran seorang lelaki dalam hidup seorang wanita seharusnya membawa rasa aman, bahkan jika takdir memisahkan. Ketika yang tertinggal justru penyesalan, itu tanda bahwa relasi tersebut gagal menjaga kemanusiaan. Lelaki yang utuh adalah ia yang kepergiannya tidak melukai, dan kenangannya tidak membuat seseorang menyesal pernah mencintai.

Jika suatu hari ada seseorang yang menyesal pernah mempercayakan hatinya kepadamu, apakah kamu akan berani bertanya dengan juj
Reply - Conversation - Jan 12
Sering kali manusia terjebak dalam kelelahan batin karena terlalu fokus pada apa yang belum tercapai. Mata terus menatap ke depan, sementara tangan menggenggam sesuatu yang tak lagi dihargai. Keinginan yang berlebihan perlahan menggerus rasa syukur, membuat hidup terasa selalu kurang, meski sebenarnya banyak hal sudah terpenuhi.

Masalahnya bukan pada mimpi, melainkan pada lupa berhenti sejenak untuk menghargai proses. Saat satu target tercapai, pikiran langsung melompat ke target berikutnya. Kebahagiaan ditunda terus-menerus, seolah hidup baru layak dinikmati setelah semua keinginan terkumpul, padahal waktu terus berjalan tanpa menunggu kesiapan kita.

Contohnya terlihat pada seseorang yang telah memiliki pekerjaan stabil, namun terus membandingkan dirinya dengan orang lain yang gajinya lebih besar. Alih-alih bersyukur, ia justru merasa gagal setiap hari, padahal dulu posisi itu adalah doa yang ia ucapkan berkali-kali sebelum tidur.

Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan. Ada pasangan yang sebenarnya sudah saling mendukung, tetapi rusak karena salah satunya membayangkan hubungan ideal seperti yang ia lihat di luar. Keindahan yang nyata dikorbankan demi bayangan yang belum tentu memberi ketenangan.

Bukan berarti manusia harus berhenti bercita-cita. Keinginan tetap penting sebagai arah, namun rasa cukup dibutuhkan agar langkah tidak berubah menjadi keluhan. Saat seseorang mampu merawat apa yang ada, ia justru berjalan lebih ringan menuju hal-hal yang belum dimiliki.

Pada akhirnya, hidup menjadi lebih utuh ketika kita sadar bahwa banyak hal yang kini terasa biasa dulu adalah harapan besar. Dengan menjaga apa yang ada, mimpi baru bisa dikejar tanpa harus merusak kebahagiaan yang sudah lebih dulu hadir.
Reply - Conversation - Jan 8
Women are often compared to the ocean because the depth of their feelings is unpredictable.
There are calm days, there are rough days, and there are times when storms come without warning. This change is not a sign of weakness, but rather proof that feelings are alive and moving according to experiences, wounds, hopes, and love received or disappointed.

On the other hand, men are depicted as sailors who choose to sail on the ocean. Being a sailor means realizing that the journey isn't always comfortable.

He can't demand that the sea always be friendly, because the essence of sailing is being prepared to face uncertainty. Determination, patience, and the courage to read the course are the main assets to avoid being shipwrecked by momentary emotions.

A mature relationship is born when both parties understand their respective roles. The sea doesn't need to apologize for its waves, and sailors have no right to blame the storm.

What is needed is mutual understanding, learning to survive without hurting each other, and realizing that the journey together isn't about domination, but about growing amidst change.
Reply - Conversation - Jan 2
People will miss you when they fail to find someone who is the same as you.
Reply - Conversation - Jan 2
In a world full of emotional transactions, love often comes with conditions. Some love because they want to be possessed, others endure because they fear loss, and still others give attention while secretly demanding something in return. So when someone loves without demands, without the desire to bind, without the urge to control, it is both rare and soothing to the soul.

Love that asks for nothing but the safety and well-being of the loved one is born from a mature heart. It does not grow from a void that needs to be filled, but from an abundance that needs to be shared. Psychologically, this kind of love signifies emotional maturity, because it does not use others as instruments to satisfy wounds or ego-driven needs.

From a philosophical perspective, this kind of love approaches the meaning of pure love. It is not oriented toward possession, but toward caring. It is not noisy with claims, but present in prayer, silence, and sincere attention. There, love transforms from desire to inner responsibility, from passion to clear concern.

Spiritually, love that desires only the well-being of others is a reflection of love for God. It teaches that loving does not always mean approaching, grasping, or demanding a role in someone's life. Sometimes, the highest form of love is ensuring that the person we love remains whole, calm, and unharmed, even without us.

How beautiful it would be if, in this demanding life, we were met with a heart that silently prayed for us, whose happiness depended not on our presence by their side, but on the news that we were well. Such love doesn't bind our steps, but strengthens our souls.
Reply - Conversation - Jan 2
Ada momen dalam hidup ketika kejujuran terasa seperti berjalan sendirian di jalan yang sepi. Kata-kata yang lahir dari niat lurus tidak selalu disambut hangat, bahkan sering kali memicu penolakan. Dalam relasi sosial, kejujuran kerap dianggap ancaman karena ia membuka apa yang ingin disembunyikan. Ia mengguncang kenyamanan semu, merobek topeng, dan memaksa orang lain bercermin pada hal yang mungkin belum siap mereka terima.

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan untuk mencintai apa yang membuatnya merasa aman, bukan selalu apa yang benar. Kemunafikan sering menjadi jalan pintas untuk mendapatkan penerimaan, pujian, dan rasa memiliki. Namun di balik itu, jiwa perlahan terkikis, karena hidup tidak lagi selaras antara apa yang dirasakan dan apa yang ditampilkan. Di sinilah kejujuran menemukan maknanya yang paling dalam, bukan sebagai alat untuk menyenangkan orang lain, tetapi sebagai cara untuk tetap utuh sebagai manusia.

1. Kejujuran adalah kesetiaan pada diri sendiri

Kejujuran pertama-tama bukan ditujukan kepada dunia, melainkan kepada diri sendiri. Ia adalah kesediaan untuk tidak mengkhianati suara batin demi kenyamanan sosial. Dalam filsafat hidup yang sadar, keutuhan diri lebih berharga daripada popularitas sesaat. Ketika seseorang jujur, ia mungkin kehilangan simpati sebagian orang, tetapi ia memperoleh sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu rasa damai karena tidak hidup dalam kepura-puraan.

2. Kebencian sering lahir dari kebenaran yang mengusik

Tidak semua kebencian bersumber dari kesalahan. Ada kebencian yang muncul karena seseorang berani berkata apa adanya. Secara psikologis, kebenaran bisa memicu rasa terancam, terutama bagi mereka yang masih bergantung pada ilusi. Kejujuran menjadi cermin yang terlalu terang, sehingga lebih mudah memecahkannya daripada menatap pantulan diri sendiri. Memahami hal ini membuat hati lebih tenang saat penolakan datang.

3. Kemunafikan menawarkan cinta yang rapuh

Cinta yang lahir dari kemunafikan bersifat sementara dan bersyarat. Ia ada selama topeng tetap terjaga dan peran terus dimainkan. Secara sosial, hubungan semacam ini tampak harmonis di luar, namun kosong di dalam. Jiwa harus terus berjaga agar tidak terpeleset keluar dari skenario. Perlahan, kelelahan batin menumpuk, karena mencintai dan dicintai dengan kepura-puraan menuntut pengorbanan diri yang tidak pernah selesai.

4. Dibenci karena jujur adalah luka yang menyembuhkan

Rasa sakit akibat kejujuran memang nyata, namun ia bersifat membersihkan. Ia menyisakan relasi yang tulus dan menyingkirkan yang hanya bertahan karena kepalsuan. Secara filosofis, luka semacam ini adalah proses pemurnian, di mana manusia belajar memilih kualitas hubungan daripada kuantitas penerimaan. Dari sini, hidup menjadi lebih ringan, karena tidak semua orang harus dipertahankan untuk merasa berharga.

5. Keutuhan batin lebih bernilai daripada penerimaan sosial

Pada akhirnya, manusia hidup bersama dirinya sendiri lebih lama daripada den
Reply - Conversation - Dec 31
🍂 What's the hardest feeling in the world?

The hardest feeling is loving sincerely, but having to let go without explanation.

The hardest thing isn't losing, but staying strong when there's no one else to turn to.

The hardest feeling is longing that can't be expressed.

The hardest feeling in the world is being sincere, when the heart still wants.
Please Sign In or Join for Free to view the rest of this profile.
You are currently logged in from 216.73.216.150 View account activity.